Selasa, 06 November 2012

Adaptasi Psikologis Ibu Nifas

Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan ibu maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan yang berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus. Dengan pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting. Pada masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan pengertian dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis yang patologis.
Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :

1. Fase Taking In
Fase ini merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini fokus perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya.
Oleh karena itu kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu yang memang sedang meningkat.

2. Fase Taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena sat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.

3. Fase Letting Go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.
Banyak ketakutan dan kekhawatiran pada ibu yang baru melahirkan terjadi akibat persoalan yang sederhana dan dapat diatasi dengan mudah atau sebenarnya dapat dicegah oleh staf keperawatan, pengunjung dan suami, bidan dapat mengantisipasi hal-hal yang bias menimbulkan stress psikologis. Dengan bertemu dan mengenal suami serta keluarga ibu, bidan akan memiliki pandangan yang lebih mendalam terhadap setiap permasalahan yang mendasarinya.
Fase-fase adaptasi ibu nifas yaitu taking in, taking hold dan letting go yang merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan normal.
Walaupun perubahan-perubahan terjadi sedemikian rupa, ibu sebaiknya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya sejak awal. Sejak dalam kandungan bayi hanya mengenal ibu yang memberinya rasa aman dan nyaman sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah berat.

Post Partum Blues
Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan.
Disini hormon memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat membuat perbedaan besar pada kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh kembali dalam keadaan normal.
Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin yaitu merupakan semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan
Etiologi : berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita selama kehamilan dan perubahan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi, perubahan hormonal, adanya perasaan kehilangan secara fisik sesudah melahirkan yang menjurus pada suatu perasaan sedih.
Penyebab yang menonjol adalah :
a. Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan.
b. Rasa sakit pada masa nifas
c. Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan
d. Kecemasan ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang dari rumah sakit
e. Rasa takut tidak menarik lagi bagi suami.
Gejala-gejalanya antara lain: Sangat emosional, sedih, khawatir, kurang percaya diri, mudah tersinggung, merasa hilang semangat, menangis tanpa sebab jelas, kurang merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan, harga diri rendah, tidak sabaran, terlalu sensitive, mudah marah dan gelisah.

Hal-hal yang dapat dilakukan seorang bidan :
a. Menciptakan ikatan antara bayi dan ibu sedini mungkin
b. Memberikan penjelasan pada ibu, suami dan keluarga bahwa hal ini merupakan suatu hal yang umum dan akan hilang sendiri dalam dua minggu setelah melahirkan.
c. Simpati, memberikan bantuan dalam merawat bayi dan dorongan pada ibu agar tumbuh rasa percaya diri
d. Memberikan bantuan dalam merawat bayi
e. Menganjurkan agar beristirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi
Post partum blues ini apabila tidak ditangani secara tepat dapat menjadi lebih buruk atau lebih berat, post partum yang lebih berat disebut post partum depresi (PPD) yang melanda sekitar 10% ibu baru.
Gejala-gejalanya : sulit tidur bahkan saat bayi telah tidur, nafsu makan hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control, terlalu cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi, tidak menyukai atau takut menyentuh bayi, pikiran yang menakutkan mengenai bayi, sedikit atau tidak ada perhatian terhadap penampilan pribadi, gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas atau perasaan berdebar-debar. Jika ditemukan sejak dini penyakit ini dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan konsultasi dengan psikiater, jika depresi yang ibu alami berkepanjangan mungkin ibu perlu perawatan dirumah sakit.
Oleh karena itu penting sekali bagi seorang bidan untuk mengetahui gejala dan tanda dari post partum blues sehingga dapat mengambil tindakan mana yang dapat diatasi dan mana yang memerlukan rujukan kepada yang lebih ahli dalam bidang psikologi.

Kesedihan dan Duka Cita
a. Kemurungan Masa Nifas
Kemurungan masa nifas normal saja dan disebabkan perubahan dalam diri seseorang wanita selama kehamilan serta perubahan irama/cara kehidupannya setelah bayi lahir. Seorang ibu lebih beresiko mengalami kemurungan pasca bersalin, karena ia masih mudah mempunyai masalah dalam menyusui bayinya. Kemurungan pada masa nifas adalah hal yang umum, dan perasaan-perasaan demikian biasanya hilang sendiri dalam dua minggu sesudah melahirkan.

b. Terciptanya Ikatan Ibu dan Bayi
Menciptakan terjadinya ikatan ibu dan bayi dalam jam pertama setelah kelahiran adalah dengan cara mendorong pasangan untuk memegang dan memeriksa bayinya, memberi komentar positif tentang bayinya, meletakan bayinya disamping ibunya. Berikan privasi pada pasangan tersebut untuk sendiri saja bersama bayinya kemudian redupkan lampu ruangan agar bayi membuka matanya. Tangguhkan perawatan yang tidak begitu penting sampai sesudah pasangan orangtua bayi, dapat berinteraksi dengan bayinya selama masih dalam keadaan bangun.
Perilaku normal orang tua untuk menyentuh bayinya ketika mereka pertama kali melihat bayinya yaitu dengan meraba atau menyentuh anggota badab bayi dengan telapak tangan dan menggendongnya dilengan dan memposisikanya sedemikian rupa sehingga matanya bertatapan langsung dengan mata bayi.
c. Tanda dan Gejala serta Etiologi Kemurungan Masa Nifas
Tanda dan gejalanya: sangat emosional, sedih, khawatir, mudah tersinggung, cemas, merasa hilang semangat, mudah marah, sedih tanpa ada sebabnya, menangis berulang kali.
Etiologi: berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita selama kehamilan dan perubahan dalam cara hidupnya sesudah mempunyai bayi. Perubahan hormonal yang cepat sementara tubuh kembali pada keadaan tidak hamil dan sementara proses menyusui telah terjadi. Kemurungan dapat menjadi semakin parah oleh adanya ketidaknyamanan jasmani, rasa letih, stress, atau kecemasan yang tidak diharapkan karena adanya ketegangan dalam keluarga atau adanya cara penanganan yang tidak peka oleh para petugas.
Penatalaksanaan secara tradisional dan kebidanan (mungkin saja sama) bagi adanya kemurungan pada masa nifas. Berikan kesempatan luas pada ibu yang baru untuk bertanya, bicarakan apa yang terjadi selama proses persalinan dan biarkan ibu mengungkapkan apa yang dirisaukanya. Biarkan bayi bersama ibunya, dan berikan dukungan atau dorongan pada ibu untuk merawat bayinya.
Ibu yang mempunyai resiko tinggi yang mempunyai reaksi psikologis lebih parah daripada kemurungan masa nifas adalah Ibu yang rasa percaya dirinya rendah, ibu yang tidak mempunyai jaringan dukungan, ibu yang bayinya meninggal atau menyandang masalah. Tanta-tanda dan gejala ibu yang mengalami atau mempunyai reaksi psikologis yang lebih parah daripadakemutungan masa nifas dan bagaimana penatalaksanaan kebidananya?
Tanda-tanda dan gejala: Tidak bisa tidur atau tidak bernafsu makan, merasa ia tidak dapat merawat dirinya sendiri atau bayinya, berfikir untuk menciderai dirinya sendiri atau bayinya, dan seolah mendengar suara-suara atau tidak dapat berfikir secara jernih, perilakunya aneh, kehilangan sentuhan atau hubungan dengan kenyataan, halusinasi atau khayalan, dan menyangkal bahwa bayi yang dilahirkan bukan anaknya.
Penatalaksanaan: Banyak perempuan dibawah depresi yang biasa menanggapi atau dipengaruhi oleh dorongan atau bujukan dan dukungan fisik yang diberikan oleh bidan atau anggota keluarganya. Bila seorang ibu tidak bereaksi positif terhadap dorongan atau dukungan yang diberikan atau ia tetap menunjukan perilaku aneh (mendengar suara-suara, berada diluar kenyataan, halusinasi atau berkhayal, dan menolak bayinya) atau ia berfikir untuk menciderai dirinya sendiri atau bayinya, ia harus dirujuk kepada seorang ahli yang mampu menangani masalah psikologis. Ia mungkin memerlukan pengobatan khusus untuk membantu mengatasi keaadaanya.

Ambarwati. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
Walsh, Linda. V. 2003. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Situs Web: http://the2w.blogspot.com

Senin, 05 November 2012

POSISI MENYUSUI YANG BENAR

Pengertian Teknik Menyusui Yang Benar
Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).

Pembentukan dan Persiapan ASI

Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan
sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam.

Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi.

Posisi dan perlekatan menyusui

Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.

Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.

Gambar 1. Posisi menyusui sambil berdiri yang benar (Perinasia, 1994)

Gambar 2. Posisi menyusui sambil duduk yang benar (Perinasia, 1994)

Gambar 3. Posisi menyusui sambil rebahan yang benar (Perinasia, 1994)

Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti
memegang bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.

Gambar 4. Posisi menyusui balita pada kondisi normal (Perinasia, 1994)

Gambar 5. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di ruang perawatan (Perinasia, 2004)

Gambar 6. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah (Perinasia, 2004)

Gambar 7. Posisi menyusui bayi bila ASI penuh (Perinasia, 2004)

Gambar 8. Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan (Perinasia, 2004)

Langkah-langkah menyusui yang benar

Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai.

Gambar 9. Cara meletakan bayi (Perinasia, 2004)

Gambar 10. Cara memegang payudara (Perinasia, 2004)

Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.


Gambar 11. Cara merangsang mulut bayi (Perinasia, 2004)

Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu.
Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.

Gambar 12. Perlekatan benar (Perinasia, 2004)

Gambar 13. Perlekatan salah (Perinasia, 2004)

Cara pengamatan teknik menyusui yang benar

Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah
menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :

Bayi tampak tenang.
Badan bayi menempel pada perut ibu.
Mulut bayi terbuka lebar.
Dagu bayi menmpel pada payudara ibu.
Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk.
Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
Puting susu tidak terasa nyeri.
Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
Kepala bayi agak menengadah.

Gambar 14. Teknik menyusui yang benar (Perinasia, 2004)

Lama dan frekuensi menyusui

Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila
bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara. Pesankan kepada ibu agar berusaha menyusui sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. Setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan bra yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.

Source: http://creasoft.wordpress.com/2008/04/18/teknik-menyusui-yang-benar

KEBUTUHAN IBU PADA MASA NIFAS

.1 Nutrisi

Nutrisi yang terpenting untuk pemulihan tubuh pasca-persalinan, cadangan tenaga, kesehatan yang , dan menyusui, diet juga diperlukan untuk menjaga kecukupan ASI. Berikut ini zat-zat yang dibutuhkan dalam diet ibu pasca-persalinan./ibu nifas.
a.Kalori
Ibu nifas harus makan dengan kalori sesuai dengan kebutuhan anda agar tidak kelebihan berat badan. Jika ibu nifas menyusui tambahkan 400 hingga 500 kalori dari jumlah kalori. Jika kebutuhan wanita dewasa memerlukan 1800 kalori perhari, maka ibu nifas membutuhkan 2300 kalori. Ibu nifas juga harus melipatkan jumlah kalori jika menyusui bayi kembar. Jangan pernah mencoba untuk mengurangi pasokan kalori secara drastis, karena hal ini akan mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan ASI rusak.

b.Protein

Dalam kondisi menyusui, dibutuhkan 3 porsi protein perhari. Satu protein sama dengan tiga gelas susu, dua butir telur, lima putih telur, 120 gram keju, 1 ¾ gelas yogurt, 120-140 gram ikan (seafood)/daging (sapi, domba)/unggas, 200-240 gram tahu, atau 5-6 sendok selai kacang.

c.Kalsium
Berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Vitamin D dan Kalsium terserap masuk ke dalam ASI. Untuk mengatasi asupan vitamin D dan kalsium tersebut, atasilah dengan minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi dan sore hari. Sebaiknya tingkatkan konsumsi kalsium 5 porsi perhari.
Selama menyusui anda membutuhkan 5 porsi kalsium perhari. Satu porsi setara dengan 50-60 gram keju, satu cangkir susu krim, 11/2 – 13/4 brokoli, 160 gram ikan salmon, 120 gram ikan sarden, atau 280 gram tahu kalsium
d.Magnesium
Dibutuhkan dalam setiap sel tubuh untuk membantu gerak otot, fungsi syaraf dan
memperkuat tulang. Terdapat dalam gandum dan kacang-kacangane.Sayuran
Sedikitnya tiga porsi perhari, satu porsi setara dengan 1/8 semangka, ¼ mangga, ¾ cangkir brokoli, ½ wortel, ¼ - ½ cangkir sayuran hijauyang telah dimasak (tanpa kuah
e. .Lemak
Hanya butuh sedikit lemak dan ibu nifas harus berhati-hati memilih jenis lemak khususnya bila ibu nifas mempunyai resiko terkena penyakit jantung. Rata-rata kebutuhan lemak wanita dewasa adalah 41/2 porsi lemak (14 gram perporsi) perharinya. Satu porsi lemak sama dengan 80 gram keju, tiga sendok makan kacang tanah atau kenari, empat sendok makan krim, secangkir es krim, ½ buah alpukat, dua sendok makan selai kacang, 120-140 gram daging tanpa lemak, sembilan kentang goreng, dua iris cake, satu sendok makan mayones atau mentega.

f.Cairan

Sedikitnya 8 gelas cairan harus anda konsumsi. Minum sedikitnya 3 liter tiap hari, akan menjadi suatu hal yang sangat baik seandainya ibu nifas membiasakan diri segera mengkonsumsi cairan segera setelah menyusui bayinya. Cairan ini bisa diperoleh dari air putih, sari buah, susu dan sup
g. Vitamin
Selama menyusui ibu nifas tidak dilarang minum vitamin tambahan yang baik. Hal ini dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan diet selama menyusui, melainkan hanya untuk berjaga-jaga saja, ibu nifas dapat melanjutkan vitamin selama hamil setidaknya sampai 6 pulan pasca melahirkan. Selanjutnya cukup meminum mineral standar yang mengandung vitamin B12, vitamin D (ini diberikan karena selama nifas jarang terkena sinar matahari), asam folik, zat besi dan seng jika diperlukan. Sebaiknya ada juga mengkonsumsi asam folik atau tablet tambah darah selama 40 hari setelah anda melahirkan. Zat besi tersebut dapat di peroleh dalam daging berwarna merah, hati, makanan laut dan sayuran hijau. Sedangkan asam folik yang berguna dalam mencegah terjadinya anemia (kurang darah) dapat temui dalam hati ayam, bayam dan sayuran hijau.Minum kapsul Vit A (200.0000 unit) agar ibu bisa memeberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI-Nya

2.2 Kebutuhan Ambulasi
Sebagian besar pasien dapat melakukan ambulasi segera setelah persalinan usai. Aktifitas tersebut amat berguna bagi semua sistem tubuh, terutama fungsi usus, kandung kemih, sirkulasi dan paru-paru. Hal tersebut juga membantu mencegah trombosis pada pembuluh tungkai dan membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat. Aktivitas dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari miring kiri – miring kanan ,kemudian setengah duduk, duduk ,berdiri di samping tempat tidur kemudian berjalan pelan-pelan di sekitar kamar ,baru berjalan ke kamar mandi.dengan memberikan jarak antara aktivitas dan istirahat , latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu,seperti :
1. Tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada ; tahan satu hitungan sampai 5 dan ulangi sebanyak 10 kali.Untuk memperkuat tonus jalan lahir dan dasar panggul dengan cara latihan senam kegel.
2. Berdiri dengan tungkai di rapatkan .Kencangkan otot-otot , pantat dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan .kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali
Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan ,setiap minggu naikkan jumlah .latihan 5 kali lebih banyak .Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali

2.3 Kebutuhan Eliminasi : BAB/BAK
Kebanyakan pasien dapat melakukan BAK secara spontan dalam 8 jam setelah melahirkan. Selama kehamilan terjadi peningkatan ektraseluler 50%. Setelah melahirkan cairan ini dieliminasi sebagai urine. Umumnya pada partus lama yang kemudian diakhiri dengan ektraksi vakum atau cunam, dapat mengakibatkan retensio urine. Bila perlu, sebaiknya dipasang dower catheter untuk memberi istirahat pada otot-otot kandung kencing. Dengan demikian, jika ada kerusakan-kerusakan pada otot-otot kandung kencing, otot-otot cepat pulih kembali sehingga fungsinya cepat pula kembali.
Buang air besar (BAB) biasanya tertunda selama 2 sampai 3 hari setelah melahirkan karena enema prapersalinan, diit cairan, obat-obatan analgesik selama persalinan dan perineum yang sakit. Memberikan asupan cairan yang cukup, diet yang tinggi serat serta ambulasi secara teratur dapat membantu untuk mencapai regulasi BAB.


DAFTAR PUSATAKA
Saifduddin,Abul bari dkk.2010. Buku panduan praktis pelayanan keseahatan maternal dan neonatal..Jakarta .PT. Bina pustaka sarwono prawirihardjo.














Jumat, 02 November 2012

AMNIOTOMI

1. DEFINISI
Amniotomi adalah tindakan untuk membuka selaput amnion dengan jalan membuat robekan kecil yang kemudian akan melebar secara spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan di dalam rongga amnion.

2. TUJUAN
a Proses persalinan kala II (kala pengeluaran) berlangsung sebagaimana mestinya.
b Pada kondisi selektif dilakukan sebagai upaya mempercepat persalinan kala I (kala pembukaan)

3. FUNGSI KETUBAN
a Melindungi bayi dari infeksi
b Melindungi dari tekanan uterus
c Membantu pembukaan cervix dan akan pecah secara spontan
d Bila tidak pecah spontan maka dilakukan amniotomi

4. Alasan menghindari pemecahan ketuban dini
a Kemungkinan kompresi tali pusat
b Molase yang meningkat serta kemungkinan kompresi kepala yang tidak merata
c Tekanan yang meningkat pada janin mengakibatkan oksigenisasi janin yang berkurang

5. INDIKASI

Dilakukan pada pasien :
1. Persalinan kala II
2. Akselerasi persalinan
3. Persalinan pervaginam dengan menggunakan instrumen
Hati-Hati pada :
• Polihidramnion
• Presentasi Muka
TIDAK DIANJURKAN PADA :
• Tali pusat terkemuka
• Vasa previa
• Letak lintang

6. PROSEDUR

A. PERSIAPAN ALAT :
• Siapkan peralatan/pelindung penolong :
• ½ kocher
• 1 wadah DTT berisi : sarung tangan DTT ; kasa steril
• Fetoskop ; jam/weker ; povidon-iodin.
B. PIMPINAN PERSALINAN (bagian dari prosedur persalinan)
• Bila ketuban belum pecah : lakukan pemecahan selaput ketuban.
• Pastikan kepala sudah masuk, tidak teraba bagian kecil janin atau tali pusat.
• Fiksasikan kepala bayi pada PAP dengan satu tangan.
• Masukkan ½ kocher diantara telunjuk dan jari tengah hingga menyentuh selaput ketuban.
• Saat his mereda, gerakan kedua ujung jari tangan dalam untuk menorehkan gigi kocher hingga merobekkan selaput amnion 1-2 cm
• Tekankan ujung jari pada tempat robekan sehingga cairan amnion keluar perlahan-lahan
• Setelah cairan mengalir perlahan, keluarkan ½ kocher dari vagina, masukkan ke dalam ember berisi larutan klorin 0,5%.
• Pertahankan jari tangan dalam pada vagina perhatikan warna, jumlah dan pastikan tidak teraba bagian kecil janin
• Keluarkan jari tangan dalam dari vagina.
• Monitor denyut jantung janin setelah ketuban pecah.
C. LANJUTKAN PIMPINAN PERSALINAN

Selasa, 30 Oktober 2012

midwifery education in South East Asia

Midwifery education is integrated in the nursing programmes in countries like Bhutan, DPR Korea, India Nepal, and Thailand. In some countries like Bangladesh and Sri Lanka, midwifery education is offered to those who have already completed Diploma in Nursing. Countries such as Indonesia and Myanmar offer a separate programme in midwifery. This is stipulates programmes, entry requirement and duration of study and number of normal deliveries required.


1. Bangladesh
Midwifery programme entry requirement :
- Diploma in Nursing Science
- Direct entry, grade 12th
Duration of Programme : 3 years
No. of normal deliveries required : 20
Title : nurse midwife

- Bachelor of Science in Nursing
- Direct entry, grade 12th
Duration of Programme : 4 years
No. of normal deliveries required : 20
Title : nurse midwife

- Direct entry, grade 10th
- Certificate
Duration of Programme : 18 month
No. of normal deliveries required : NA
Title : junior midwife

2. Bhutan
Midwifery programme entry requirement :
- Direct entry, grade 12th
Duration of Programme : 24(6-month midwifery)
No. of normal deliveries required : 15
Title : health assistant
- Diploma in Nursing and Midwifery and Direct entry, grade 12th
Duration of Programme : 42 month
No. of normal deliveries required : 15
Title : nurse midwife
- Post Basic Nursing and Midwifery Programme and Diploma nurse
Duration of Programme : 2 years
No. of normal deliveries required :
Title :nurse midwife

3. DPR Korea
Midwifery programme entry requirement :
Direct entry, grade 11th
Duration of Programme : 24
No. of normal deliveries required : NA
Title : midwife

4. India
Midwifery programme entry requirement :
- Direct entry, grade 12th
Duration of Programme : 36
No. of normal deliveries required : NA
Title : general nurse midwife
- Direct entry, grade 12th
Duration of Programme : 48
No. of normal deliveries required : NA
Title : Nurse-midwife, Bachelor of Science in Nursing

5. Indonesia
Midwifery programme entry requirement :
- Direct entry, grade 12th
- diploma in midwifery
Duration of Programme : 36 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : midwives

6. Maldives
Midwifery programme entry requirement :
- Diploma in Midwifery
- Nurses with Diploma in Nursing/Diploma in Primary Health Care and 1 year work experience
Duration of Programme : 1 year
No. of normal deliveries required : NA
Title : nurse midwives

- Advanced Certificate in Family Health
- Workers with Family Health Certificate and work experience
Duration of Programme : 1 year
No. of normal deliveries required : NA
Title : family health worker = midwives

- Certificate in Midwifery
- Nurse Aides from Advance Certificate in Nursing
Duration of Programme :6 month
No. of normal deliveries required : NA
Title : Auxiliary Nurse

7. Myanmar
Midwifery programme entry requirement :
- Certificate in Midwife
- Direct entry, 10th grade (highest level)
Duration of Programme : 18 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : midwives

- Diploma In nurse midwife
- Direct entry, 10th grade
Duration of Programme : 36 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : nurse midwives

- Bachelor of Science in Nursing
- Direct entry, 10th grade
Duration of Programme : 48 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : nurse midwives

8. Nepal
Midwifery programme entry requirement :
- Direct entry, 10th grade
Duration of Programme : 24 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : auxiliary nurse midwives

- Direct entry, 10th grade
Duration of Programme : 36 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : nurse midwives

9. Sri Lanka
Midwifery programme entry requirement :
- Direct entry, 10th grade
Duration of Programme : 18 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : public health midwives

- Public Health Midwife with 10 years experience
Duration of Programme : 3 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : supervising public health midwives

10. Thailand
Midwifery programme entry requirement :
- Bachelor of Nursing Science or equivalent
- Direct entry, 12th grade
Duration of Programme : 48 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : profesional nurse midwives

- Bachelor of Nursing Science (Continuation) Technical Nurse
Duration of Programme : 24 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : profesional nurse midwives

11. Timor Leste
Midwifery programme entry requirement :
- Diploma III in Midwifery DI Midwife
Duration of Programme : 24 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : midwives

- Bachelor degree in Midwifery Direct entry
Duration of Programme : 48 months
No. of normal deliveries required : NA
Title : midwives

Note: Bangladesh also has under the Family Planning Directorate an 18-month course for Family Planning Visitor (FPV) in which six of the 18 months cover obstetric/maternal health. The FPV has to conduct 10-20 deliveries and is placed at thana & union level. The registration is with the Bangladesh Nursing Council. The Bangladesh Red Crescent educates junior midwives with an 18-month training programme, but it is not on a regular basis. The registration is with the Bangladesh Nursing Council.













dokumentasi kebidanan

Sesuai dengan Kepmenkes no 938/MENKES/SK/VIII/2007, tercantum standar VI : Pencatatan asuhan kebidanan.
Pendokumentasian asuhan kebidanan dalam menggunakan metoda SOAP yaitu :
1. S = Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa sebagai langkah 1 varney

2. O = Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil lab dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assesment sebagai langkah 1 varney

3. A = Assesment
Mengggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu indentifikasi. Langkah 2,3 dan 4 varney yaitu :
2) Diagnosa/masalah
3) Antisipasi diagnosa/masalah potensial
4) Perlunya tindakan segera oleh bidan/dokter, konsultasi/kolaborasi atau rujukan

4. P = Planning
Merencanakan, menggambarakan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan dan evaluasi berdasarkan assesment sebagai langkah 5,6 dan 7 varney

asuhan sayang ibu dalam persalinan

ASUHAN SAYANG IBU

Asuhan yang aman, berdasarkan evidence based dan turut meningkatkan angka kelangsungan hidup ibu
1. Membantu ibu merasa nyaman dan aman selama proses persalinan yang menghargai kebiasaan budaya praktek keagamaan dan kepercayaan
2. Melibatkan ibu dan keluarga sebagai pengambil keputusan
3. Menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah dan bahwa intervensi yang tidak perlu dan pengobatan untuk proses alamiah harus dihindarkan
4. Berpusat pada ibu dan bukan pada petugas kesehatan dan selalu melihat dahulu ke cara pengobatan yang sederhana dan non intervensi sebelum berpaling ke teknologi
5. Menjamin bahwa ibu dan keluarganya diberitahu tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang bisa diharapkan
6. Panggil ibu sesuai dengan namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai dengan martabatnya
7. Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu selama proses persalinan dan kelahiran dan anjurkan keluarga agar terlibat dalam asuhan sayang ibu
8. Berikan dukungan dan semangat pada ibu dan anggota keluarganya
9. Tenteramkan hati ibu selama kala 2 persalinan
10. Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran
11. Saat pembukaan lengkap, jelaskan pada ibu untuk hanya meneran apabila ada dorongan kuat untuk meneran. Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
12. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi selama kala 2 persalinan
13. Berikan rasa aman, semangat dan tenteramkan hati ibu selama proses persalinan dengan memberikan penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan
14. Menghargai privasi ibu
15. menghargai dan memperbolehkan praktek-praktek keagamaan maupun tradisional yang tidak memberi pengaruh yang merugikan
16. Hindari tindakan yang berlebihan dan mungkin dapat membahayakan seperti episiotomi, kateterisasi rutin, pencukuran dan klisma
17. Anjurkan pada ibu untuk memeluk bayinya segera setelah kelahiran bayi
18. Membantu memulai pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah kelahiran
19. Siapkan rencana rujukan (bila diperlukan)

Kerugian pencukuran perineal, enema, kateterisasi rutin
• Pencukuran perineal dapat menyebabkan laserasi kecil yang bisa menjadi jalan masuk bagi organisme serta sebagai saluran masuk infeksi. Pencukuran akan terasa tidak nyaman pada saat bulu pubis mulai tumbuh kembali
• Enema bisa menambah rasa tidak nyaman bagi ibu, menimbulkan kram pada rektum sehingga feses tidak bisa dikendalikan, menyebabkan lingkungan persalinan tidak bersih. Adanya kram pada bagian anus juga bisa menimbulkan kram pada bagian uterus dan dapat menyebabkan pengeluaran bayi yang terlalu cepat (partus presipitatus)
• Kateterisasi dapat menimbulkan rasa sakit, meningkatkan resiko infeksi dan kemungkinan luka pada saluran kemih

Kehadiran keluarga atau teman dalam persalinan
• Persepsi ibu mengenai kelahiran anak lebih baik
• Memberikan rasa nyaman
• Sebagai dukungan psikologis maupun emosional
• Waktu persalinan terasa lebih pendek
• Intervensi medis menjadi lebih sedikit karena rasa nyeri ibu menjadi teralihkan dengan kehadiran orang-orang yang dicintai
• Hasil persalinan yang baik, ternyata erat hubungannya dengan dukungan keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (Enkin, et al, 2000)

Hasil penelitian (Enkin, et al 2000)
• Meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernafas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu sehingga menyebabkan resiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui plasenta
• ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Kecukupan asupan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut.

POSISI MENERAN
Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan memilih sendiri posisi persalinan yang diinginkannya dan bukan berdasarkan keinginan bidannya sendiri. Dengan kebebasan untuk memutuskan posisi yang dipilihnya, ibu akan lebih merasa aman.

Berdasarkan penelitian pilihan posisi berdasarkan keinginan ibu
• Memberikan banyak manfaat
• Sedikit rasa sait dan ketidaknyamanan
• Kala 2 persalinan menjadi lebih pendek
• Laserasi perineum lebih sedikit
• Lebih membantu meneran
• Nilai apgar lebih baik

Posisi meneran
• Posisi terlentang (supine) dapat menyebabkan hipotensi karena bobot uterus dan isinya menekan aorta, vena cava inferior serta pembuluh-pembuluh darah lain sehingga menyebabkan suplai darah ke janin menjadi berkurang, dimana akhirnya ibu dapat pingsan dan bayi mengalami fetal distress ataupun anoksia janin. Posisi ini juga menyebabkan waktu persalinan menjadi lebih lama, besar kemungkinan terjadinya laserasi perineum dan dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.
• Posisi berjongkok, berlutut merangkak akan meningkatkan oksigenisasi bagi bayi dan bisa mengurangi rasa sakit punggung bagi ibu


• Posisi jongkok/setengah duduk akan membantu dalam penurunan janin dengan bantuan gravitasi bumi untuk menurunkan janin kedalam panggul dan terus turun kedasar panggul. Posisi berjongkok akan memaksimumkan sudut dalam lengkungan Carrus, yang akan memungkinkan bahu besar dapat turun ke rongga panggul dan tidak terhalang (macet) diatas simpisis pubis. Dalam posisi berjongkok ataupun berdiri, seorang ibu bisa lebih mudah mengosongkan kandung kemihnya, dimana kandung kemih yang penuh akan dapat memperlambat penurunan bagian bawah janin



• Posisi merangkak dapat membantu penurunan kepala janin lebih dalam ke panggul